{"id":1808,"date":"2022-12-31T10:28:17","date_gmt":"2022-12-31T10:28:17","guid":{"rendered":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/?p=1808"},"modified":"2022-12-31T10:28:20","modified_gmt":"2022-12-31T10:28:20","slug":"gus-muwafiq-sebut-konsep-budaya-dan-agama-ditakdirkan-bersatu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/gus-muwafiq-sebut-konsep-budaya-dan-agama-ditakdirkan-bersatu\/","title":{"rendered":"Gus Muwafiq Sebut Konsep Budaya dan Agama Ditakdirkan Bersatu"},"content":{"rendered":"<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"577\" src=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/ulama-kh-ahmad-muwafiq-saat-mengisi-program-inspirasi-ramadh-nqv9-1024x577.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-1809\" srcset=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/ulama-kh-ahmad-muwafiq-saat-mengisi-program-inspirasi-ramadh-nqv9-1024x577.webp 1024w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/ulama-kh-ahmad-muwafiq-saat-mengisi-program-inspirasi-ramadh-nqv9-300x169.webp 300w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/ulama-kh-ahmad-muwafiq-saat-mengisi-program-inspirasi-ramadh-nqv9-768x433.webp 768w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/ulama-kh-ahmad-muwafiq-saat-mengisi-program-inspirasi-ramadh-nqv9.webp 1480w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Ulama KH Ahmad Muwafiq saat mengisi program Inspirasi Ramadhan Edisi Buka Puasa bersama Host Nico Siahaan di akun BKN PDI Perjuangan di Youtube, Selasa (5\/4). Foto: BKN PDIP<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>jpnn.com, JAKARTA &#8211; Ulama Nahdlatul Ulama (NU)\u00a0KH Ahmad Muwafiq menilai agama dan budaya dalam praktiknya memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga kerukunan.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, ulama yang akrab disapa Gus Muwafiq menilai konsep agama dan budaya adalah dua hal yang tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, apalagi saling ditiadakan. &#8220;Kedua konsep tersebut memang sudah ditakdirkan untuk bersatu padu dan mengisi satu sama lain. Jika puasa adalah salah satu perintah agama, maka manisnya kolak pisang saat berbuka adalah budayanya,&#8221;\u00a0kata Gus Muwafiq\u00a0saat menjadi pembicara dalam program Inspirasi Ramadan Edisi Buka Puasa di akun YouTube BKN (Badan Kebudayaan Nasional) PDI Perjuangan, Kamis (8\/4).<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut dia, transformasi Islam untuk memenuhi takdir\u00a0sebagai agama yang membawa kesejukan bagi seluruh umat manusia memerlukan waktu\u00a0tidak sebentar. Islam telah bergerak selama 800 tahun sebelum sampai di daratan Nusantara. Oleh karena itu, tambah ulama kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini, pertemuan antara konsep agama dan kebudayaan terjadi di mana pun, dengan karakter dan corak Islam di Indonesia sangat beragam, karena Indonesia dihuni oleh ratusan\u00a0ribu budaya, suku, dan tradisi.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Di Arab sana, haji adalah hal yang biasa. Di sini merupakan hal yang istimewa dan gelarnya melekat. Kalau di Jawa berubah menjadi Wak Kaji. Nabi Muhammad juga, sampai di Indonesia mendapat sapaan nama tambahan, Kanjeng Nabi. Salat sebutannya berubah menjadi sembahyang. Ini, kan, kebudayaan, tetapi agamanya dan substansinya tetap,&#8221;&nbsp;jelas dia. Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu juga mengulas soal budaya di Indonesia, soal tahlilan dan ziarah kubur.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, urusan tersebut hanyalah permasalahan produk doa, sehingga tidak semestinya dirisaukan.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kalau ada orang Islam meninggal, memang agama menyuruh kita untuk menguburkan, semua orang sepakat bahwa si\u00a0mayat itu harus didoakan. Nah, permasalahannya,\u00a0cara berdoa setiap orang dan\/atau daerah berbeda-beda. Sekarang ada yang mendoakan online, lalu berdoa mengheningkan cipta, dan ada juga yang tahlilan itu tadi,&#8221; tuturnya. Apabila persoalan itu ditelisik lebih jauh, lanjutnya, maka akan menjadi\u00a0permasalahan bahasa, yaitu kalimat tahlil\u00a0Laa ilahaillallah\u00a0yang mendapat akhiran -an. &#8220;Di Jawa, semua mendapat akhiran -an. Kerudung, jilbab yang sedang dipakai disebut kerudungan atau jilbaban. Begitu juga tahlil tadi. Saat dilaksanakan doa-doa, bersedekah, dan diucapkannya kalimat-kalimat\u00a0thayyibah\u00a0untuk si\u00a0mayit,\u00a0maka disebut tahlilan. Sudah begitu saja,&#8221; kata dia. Sementara itu, terkait fenomena ziarah kubur, dia\u00a0berpendapat ritual ke makam-makam sanak saudara, para guru, para kiai, wali sanga, habib, dan sayid\u00a0yang tersebar di seluruh pelosok negeri justru membawa kemaslahatan tersendiri. &#8220;Kalau ziarah kubur, iya kalau ziarahnya satu, kalau guru-gurunya diziarahi semua, kan, akhirnya orang-orang Jakarta ziarah ke Jombang. Itu bus pariwisata laku,\u00a0odong-odong\u00a0laku, bakul nasi laku,&#8221; kata dia. Gus Muwafiq menyampaikan orang Jakarta cinta sama Jombang karena di situ gurunya bersemayam. Lalu, kata dia, ziarah ke Demak karena di sana ada makam Sunan Kalijaga.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Terhadap tanah-tanah di mana guru-gurunya bersemayam, akan terbangun rasa cinta terhadap tanah itu. Kalau itu menyeluruh, itulah bangunan cinta tanah air. Kalau disuruh ngebom,&nbsp;ya, enggak berani, wong&nbsp;ada makam gurunya,&#8221; ujarnya. (antara\/jpnn)<\/p>\n\n\n\n<p>&#8212;<\/p>\n\n\n\n<p>Artikel ini telah tayang di <a href=\"https:\/\/www.jpnn.com\">JPNN.com<\/a> dengan judul<br>&#8220;Gus Muwafiq Sebut Konsep Budaya dan Agama Ditakdirkan Bersatu&#8221;,<br><a href=\"https:\/\/www.jpnn.com\/news\/gus-muwafiq-sebut-konsep-budaya-dan-agama-ditakdirkan-bersatu?page=2\">https:\/\/www.jpnn.com\/news\/gus-muwafiq-sebut-konsep-budaya-dan-agama-ditakdirkan-bersatu?page=2<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>jpnn.com, JAKARTA &#8211; Ulama Nahdlatul Ulama (NU)\u00a0KH Ahmad Muwafiq menilai agama dan budaya dalam praktiknya memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga kerukunan. Oleh karena itu, ulama yang akrab disapa Gus Muwafiq menilai konsep agama dan budaya adalah dua hal yang tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, apalagi saling ditiadakan. &#8220;Kedua konsep tersebut memang sudah ditakdirkan untuk bersatu [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"content_type":[],"class_list":["post-1808","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kegiatan"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1808","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1808"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1808\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1810,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1808\/revisions\/1810"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1808"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1808"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1808"},{"taxonomy":"content_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/content_type?post=1808"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}