{"id":1823,"date":"2022-12-31T16:58:01","date_gmt":"2022-12-31T16:58:01","guid":{"rendered":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/?p=1823"},"modified":"2022-12-31T16:58:04","modified_gmt":"2022-12-31T16:58:04","slug":"di-ngabuburit-bkn-pdip-cendekiawan-muslim-beberkan-cara-walisongo-berdakwah-di-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/di-ngabuburit-bkn-pdip-cendekiawan-muslim-beberkan-cara-walisongo-berdakwah-di-bali\/","title":{"rendered":"Di Ngabuburit BKN PDIP, Cendekiawan Muslim Beberkan Cara Walisongo Berdakwah di Bali"},"content":{"rendered":"<p>Liputan6.com<br>02 Mei 2021<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"360\" src=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/014937100_1619973752-WhatsApp_Image_2021-05-02_at_23.40.57-1.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1824\" srcset=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/014937100_1619973752-WhatsApp_Image_2021-05-02_at_23.40.57-1.jpeg 640w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/014937100_1619973752-WhatsApp_Image_2021-05-02_at_23.40.57-1-300x169.jpeg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Acara Ngabuburit bersama Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Pusat PDI Perjuangan, \u201cMata Air Kearifan Walisongo\u201d, Minggu (2\/5\/2021).<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Liputan6.com, Jakarta &#8211; Cendekiawan Muslim KH Ahmad Baso memaparkan bagaimana Walisongo berdakwah di masanya, ketika Nusantara masih didominasi oleh warga beragama Hindu dan Buddha. Walisongo ternyata lewat pendekatan budaya dan penyelesaian isu kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal itu diungkap KH Ahmad Baso saat berbicara di episode ke-20 Ngabuburit bersama Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Pusat PDI Perjuangan, \u201cMata Air Kearifan Walisongo\u201d, Minggu (2\/5\/2021)<\/p>\n\n\n\n<p>Tema yang diangkat adalah \u201cHubungan Walisongo dan Komunitas Tionghoa Hindu Bali\u201d, dengan dipandu oleh Cendekiawan NU Zuhairi Misrawi sebagai host. Acara ini ditayangkan dan bisa ditonton ulang di akun youtube resmi BKN, @bknp pdiperjuangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ahmad Baso menjelaskan orang Bali bisa bertemu dengan para wali. Mereka ketemu pada level angajawinya atau bernusantaranya.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Dulu Bali hanya lokal-lokal, Hindu lokal, tapi ketika bertemu dengan karakter nasionalnya, maka bangsa ini yang diperkenalkan oleh para Wali, rasa persaudaraan dan gotong royong dalam menerapkan nilai islam di Nusantara,\u201d ujar Ahmad Baso.<\/p>\n\n\n\n<p>Dia menjelaskan, ketika berdakwah di Nusantara, terlebih pada masyarakat komunitas Tionghoa serta Hindu Bali, para wali tidak serta merta mengajarkan bagaimana cara masuk agama Islam.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun Walisongo lebih dulu mendalami psikologi dan problem yang tengah terjadi di kalangan masyarakat Bali kala itu. Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu problemnya adalah ekonomi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cWalisongo berdakwah tidak seperti yang dipahami oleh sebagian orang, yakni hanya mengajarkan tentang ajaran Islam, namun yang dilakukan para Wali melampaui itu semua,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Itu sebabnya ketika para Wali datang ke Bali tidak mengajarkan dulu bagaimana harus masuk Islam. Namun diajarkan bagaimana membangun ekonominya untuk bisa maju dan sejahtera. &#8220;Bagaimana bisa mandiri dan tidak bergantung pada impor,\u201d beber Ahmad Baso.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gotong Royong Menuju Kebangkitan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Ahmad Baso, persaudaraan dan gotong royong menuju sebuah kebangkitan, sebuah etos kerja, bersama bekerja untuk masa depan yang lebih baik. Itulah merupakan strategi yang digunakan Walisongo.<\/p>\n\n\n\n<p>Sehingga hadirnya Walisongo merupakan sebuah angin segar bagi komunitas Tionghoa Hindu Bali. Mereka banyak belajar dari Walisongo mengenai berbagai ilmu pengetahuan yang kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSalah satunya penulis Bali, didokumentasikan dalam naskah-naskah sejarah mereka, mereka menyebut kenapa orang Bali itu butuh kepada Walisongo? Karena Walisongo merupakah solusi bagi keberlangsungan peradaban mereka. Banyak dari mereka yang berguru kepada Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Kudus, yang kita tahu sangat fikih oriented. Itu ternyata orang bali berguru kepada Walisongo,\u201d jelas Ahmad Baso.<\/p>\n\n\n\n<p>Sama seperti orang kebanyakan saat ini, Ahmad Baso mengatakan komunitas Tionghoa dan Hindu Bali saat itu juga menginginkan hidup yang sejahtera dan makmur.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKenapa mereka butuh Walisongo? Mereka butuh hidup sejahtera dan makmur. Yang kedua bagaimana mereka belajar tentang ilmu pengobatan, jimat-jimat, bacaan, dan rajah. Semisal lafadz bismillah yang sering kita baca, pada waktu itu bagai orang Bali merupakan bacaan pengobatan. Dan diyakini dapat menyembuhkan sebuah penyakit,\u201d ungkap Ahmad Baso.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari kisah itu, Ahmad Baso menilai setiap warga negara bisa menyontoh teladan hidup para Walisongo. Khususnya dalam kehidupan kebangsaan di tengah ancaman ideologi transnasionalisme yang ingin menyeragamkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, setiap warga harus memiliki rasa nasionalisme kepada bangsanya sendiri. Ini sebagai bentuk kesadaran dan cinta tanah air yang ditunjukkan melalui sikap dan tingkah laku tanpa memandang ras, suku dan agama.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemangat gotong royong adalah salah satu kunci utamanya. Semangat ini yang kemudian digulirkan Walisongo dalam Komunitas Tionghoa Hindu Bali untuk menyebarkan nilai-nilai keberislaman yang senada dengan budaya Nusantara yang tengah berkembang pada waktu itu,\u201d pungkas Baso.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8212;<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber : https:\/\/www.liputan6.com\/news\/read\/4548025\/di-ngabuburit-bkn-pdip-cendekiawan-muslim-beberkan-cara-walisongo-berdakwah-di-bali<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Liputan6.com02 Mei 2021 Liputan6.com, Jakarta &#8211; Cendekiawan Muslim KH Ahmad Baso memaparkan bagaimana Walisongo berdakwah di masanya, ketika Nusantara masih didominasi oleh warga beragama Hindu dan Buddha. Walisongo ternyata lewat pendekatan budaya dan penyelesaian isu kehidupan sehari-hari. Hal itu diungkap KH Ahmad Baso saat berbicara di episode ke-20 Ngabuburit bersama Badan Kebudayaan Nasional (BKN) Pusat [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"content_type":[],"class_list":["post-1823","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kegiatan"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1823"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1823\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1825,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1823\/revisions\/1825"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1823"},{"taxonomy":"content_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/content_type?post=1823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}