{"id":1836,"date":"2023-01-01T02:06:40","date_gmt":"2023-01-01T02:06:40","guid":{"rendered":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/?p=1836"},"modified":"2023-01-01T02:06:43","modified_gmt":"2023-01-01T02:06:43","slug":"cerita-megawati-kampanya-saat-orde-baru-dan-dianggap-partai-sendal-jepit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/cerita-megawati-kampanya-saat-orde-baru-dan-dianggap-partai-sendal-jepit\/","title":{"rendered":"Cerita Megawati Kampanya saat Orde Baru dan Dianggap Partai &#8220;Sendal Jepit&#8221;"},"content":{"rendered":"<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"750\" height=\"500\" src=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Cerita-Megawati-Kampanya-saat-Orde-Baru-dan-Dianggap-Partai-Sendal-Jepit.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1837\" srcset=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Cerita-Megawati-Kampanya-saat-Orde-Baru-dan-Dianggap-Partai-Sendal-Jepit.jpeg 750w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Cerita-Megawati-Kampanya-saat-Orde-Baru-dan-Dianggap-Partai-Sendal-Jepit-300x200.jpeg 300w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/Cerita-Megawati-Kampanya-saat-Orde-Baru-dan-Dianggap-Partai-Sendal-Jepit-391x260.jpeg 391w\" sizes=\"auto, (max-width: 750px) 100vw, 750px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>JAKARTA, KOMPAS.com &#8211; Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bercerita masa lalunya ketika pertama kali berkecimpung di dunia politik. Kala itu, Megawati mengawali kariernya bergabung dengan PDI. Ia menceritakan tidak diberi ruang cukup besar oleh pemerintah Orde Baru untuk kampanye calon DPR di Jawa Tengah medio 1987. \u201cKetika itu mau pemilu kan, saya mulai melihat dari kita selalu diberi lapangan yang kecil karena dianggap PDI kecil, dibilang partai wong cilik, partai sandal jepit,\u201d sebut Megawati dalam peringatan HUT PDI Perjuangan yang dilaksanakan secara daring, Senin (10\/1\/2022).<\/p>\n\n\n\n<p>Megawati mengungkapkan, anggapan PDI partai kecil karena hanya memiliki 28 kursi di Senayan. Bahkan, pertama kali ia terjun ke Jawa Tengah, banyak masyarakat yang merupakan simpatisan Partai Nasional Indonesia (PNI) takut menyapanya. \u201cTapi waktu itu saya dapat merasakan kumpulan mereka-mereka yang dari kejauhan melihat saya, banyak dari mereka yang melihat dengan mata bersinar,\u201d tutur dia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya dekati mereka, saya salaman, mau, oh saya agak lega. Oh ternyata mereka tidak takut pada saya tapi pada situasional saat itu,\u201d papar Megawati. Ia mengingat, para simpatisan PNI itu menitipkan pesan agar Megawati terus melanjutkan perjuangannya di dunia politik. \u201cMereka hanya mengatakan,\u2019 lanjutkan Jeng, kami bantu\u2019,\u201d ungkap dia.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah beberapa kali kampanye, Megawati mulai merasa antusias masyarakat mulai tinggi. Dalam kampanye-kampanye di Jawa Tengah kala itu, ia melihat truk-truk berisi massa yang didominasi anak muda datang. \u201cTapi di belakangnya saya selalu melihat 2 sampai 3 orang tua. Ini pasti mereka yang datang dari kalangan PNI,\u201d kata Megawati. Megawati menilai bahwa keberhasilannya terpilih menjadi Anggota DPR saat itu adalah bentuk bantuan simpatisan PNI, orang-orang yang mengikuti ayahnya, Bung Karno. Para simpatisan itu memberi bantuan mengorganisir masyarakat untuk meliriknya. Lantas Megawati berpesan pada kadernya, bahwa kunci utama adalah mengorganisir dan menciptakan hubungan atau bonding pada masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cNah bukan hal yang mudah (mengorganisir) itu dari dulu sampai sekarang. Kalau hanya dibujuk, dipegang, hanya lepas. Tapi kalau punya bonding tidak akan bisa lepas,\u201d pungkasnya. Adapun Megawati kemudian terpilih menjadi salah satu Anggota DPR Fraksi PDI Periode 1987-1992. Ia mengklaim kala itu perolehan kursi PDI di Senayan bertambah 100 persen, dari 28 kursi menjadi 54 kursi.<\/p>\n\n\n\n<p>Artikel ini telah tayang di&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/\">Kompas.com<\/a>&nbsp;dengan judul &#8220;Cerita Megawati Kampanya saat Orde Baru dan Dianggap Partai &#8220;Sendal Jepit&#8221;&#8221;, Klik untuk baca:&nbsp;<a href=\"https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2022\/01\/10\/18160831\/cerita-megawati-kampanya-saat-orde-baru-dan-dianggap-partai-sendal-jepit\">https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2022\/01\/10\/18160831\/cerita-megawati-kampanya-saat-orde-baru-dan-dianggap-partai-sendal-jepit<\/a>.<br>Penulis : Tatang Guritno<br>Editor : Sabrina Asril<\/p>\n\n\n\n<p>Kompascom+ baca berita tanpa iklan:&nbsp;<a href=\"https:\/\/kmp.im\/plus6\">https:\/\/kmp.im\/plus6<\/a><br>Download aplikasi:&nbsp;<a href=\"https:\/\/kmp.im\/app6\">https:\/\/kmp.im\/app6<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA, KOMPAS.com &#8211; Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bercerita masa lalunya ketika pertama kali berkecimpung di dunia politik. Kala itu, Megawati mengawali kariernya bergabung dengan PDI. Ia menceritakan tidak diberi ruang cukup besar oleh pemerintah Orde Baru untuk kampanye calon DPR di Jawa Tengah medio 1987. \u201cKetika itu mau pemilu kan, saya mulai melihat [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":1837,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"content_type":[],"class_list":["post-1836","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bung-karno-bapak-bangsa"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1836","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1836"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1836\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1838,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1836\/revisions\/1838"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1837"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1836"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1836"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1836"},{"taxonomy":"content_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/content_type?post=1836"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}