{"id":2172,"date":"2023-01-20T12:09:12","date_gmt":"2023-01-20T12:09:12","guid":{"rendered":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/?p=2172"},"modified":"2023-01-20T12:09:15","modified_gmt":"2023-01-20T12:09:15","slug":"soekarno-dan-seni","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/soekarno-dan-seni\/","title":{"rendered":"Soekarno dan Seni"},"content":{"rendered":"<p>Soekarno dan Seni seperti dua sisi mata uang, keduanya saling berhubungan sangat<br>erat dan merupakan satu kesatuan. Soekarno sangat mencintai seni, itu fakta sejarah.<br>Dalam kalimat pembuka otobiografinya, \u201cBung Karno Penyambung Lidah Rakyat<br>Indonesia\u201d, dia mengakui bahwa untuk menggambarkan dirinya, cara termudah ialah<br>dengan menyebutnya \u201cmahapecinta\u201d. Selain mencintai negerinya, Soekarno mencintai<br>rakyatnya, mencintai perempuan, mencintai seni, dan seterusnya. \u201cAku bersyukur<br>kepada Yang Maha Kuasa, karena aku dilahirkan dengan perasaan halus dan darah<br>seni\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Seni bagi Soekarno seperti ruh, membuat apapun karya atau hasil kerjaan terasa<br>hidup. Soekarno dengan seni selalu berdampingan, di Ende misalnya, Soekarno<br>membuat sandiwara untuk membunuh kesepiannya. Ada sekitar 12 naskah yang dia<br>tulis selama pembuangannya. Kecintaan pada seni turut mempengaruhi gaya<br>kepemimpinan Soekarno. Sebagai contoh, menurut sejarawan Asvi Warman Adam,<br>Soekarno berperan penting dalam penentuan lambang negara. Desain pakaian-<br>pakaiannya, terutama jas, banyak yang dia kerjakan sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Soekarno pernah menggunakan seni dalam menganalogikan sistem pemerintahan<br>demokrasi terpimpin. Demokrasi Terpimpin dianalogikan seperti sebuah orkesta,<br>meski masing-masing elemen punya peran penting, tanpa dirijen mereka tak akan bisa<br>menghasilkan alunan nada yang harmonis. Dirigenlah yang bertugas membuat peran-<br>peran itu menjadi padu. Menghasilkan sebuah karya musik nan apik.<\/p>\n\n\n\n<p>Bung Karno mengoleksi ribuan lukisan di istana negara, &#8220;Objek lukisan favorit Bung<br>Karno adalah lukisan naturalis yang menggambarkan landscap keindahan Indonesia,<br>lukisan ini beliau pajang ketika pameran di Hotel Indonesia sebuah tempat<br>bersinggungnya hubungan-hubungan internasional saat itu,&#8221; ujar Seniman muda<br>Mevlied Nahla.<br>Soekarno tak hanya menikmati seni untuk dirinya sendiri, Soekarno ikut menularkan<br>jiwa seni kepada rakyatnya. Lebih jauh, Soekarno menggunakan seni sebagai media<br>merancang, membangun dan merawat bangsanya. Patung, monumen, bangunan,<\/p>\n\n\n\n<p>lukisan, lagu dan lain sebagainya menjadi buktinya. Tak jarang Soekarno harus<br>merogoh koceknya sendiri untuk mewujudkan karya-karya seni itu. Bila memang ada<br>klasifikasi \u2018seni untuk bangsa\u2019, \u201cSoekarno itu di situ perannya,\u201d ujar Asvi Warman<br>Adam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSeni hanyalah seni yang sebenarnya bila ia merupakan hasil ciptaan sendiri. Maka<br>itu kami membina seni Indonesia yang timbul dari nalurinya sendiri. Kami<br>menganjurkan realisme, sebab kami adalah putra-putra alam, dan kami bukan hasil<br>karya dari kekerasan kaum modernis. Rakyat Indonesia sendirilah yang nanti akan<br>menentukan gaya seninya\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Ir. Soekarno &#8211; Jakarta, 5 November 1952<\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: Historia.id dan Merdeka.com<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Soekarno dan Seni seperti dua sisi mata uang, keduanya saling berhubungan sangaterat dan merupakan satu kesatuan. Soekarno sangat mencintai seni, itu fakta sejarah.Dalam kalimat pembuka otobiografinya, \u201cBung Karno Penyambung Lidah RakyatIndonesia\u201d, dia mengakui bahwa untuk menggambarkan dirinya, cara termudah ialahdengan menyebutnya \u201cmahapecinta\u201d. Selain mencintai negerinya, Soekarno mencintairakyatnya, mencintai perempuan, mencintai seni, dan seterusnya. \u201cAku bersyukurkepada [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":3,"featured_media":2173,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[32,69,68],"content_type":[],"class_list":["post-2172","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bung-karno-bapak-bangsa","tag-bknpdiperjuangan","tag-seni","tag-soekarno"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2172","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2172"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2172\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2174,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2172\/revisions\/2174"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2173"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2172"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2172"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2172"},{"taxonomy":"content_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/content_type?post=2172"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}