{"id":2250,"date":"2023-01-31T11:13:19","date_gmt":"2023-01-31T11:13:19","guid":{"rendered":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/?p=2250"},"modified":"2023-02-01T08:35:21","modified_gmt":"2023-02-01T08:35:21","slug":"tarian-mabadong-tarian-tradisional-tanah-toraja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/tarian-mabadong-tarian-tradisional-tanah-toraja\/","title":{"rendered":"Tarian Ma&#8217;Badong: Tarian Tradisional Tanah Toraja"},"content":{"rendered":"<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/ma-badong-1-1024x683.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2267\" width=\"477\" height=\"318\" srcset=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/ma-badong-1-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/ma-badong-1-300x200.jpeg 300w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/ma-badong-1-768x512.jpeg 768w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/ma-badong-1-391x260.jpeg 391w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/ma-badong-1-1536x1024.jpeg 1536w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/ma-badong-1-2048x1365.jpeg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 477px) 100vw, 477px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">https:\/\/travelingyuk.com\/wisata-toraja-3\/280077\/<\/figcaption><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>TORAJA, salah satu etnis di daerah Sulawesi Selatan yang memiliki kesenian adat warisan leluhur yang masih dilaksanakan hingga saat ini. Salah satunya yaitu tari Ma\u2019badong.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesenian tari tradisional ini merupakan prosesi adat yang sakral di tanah Toraja. Tari Ma\u2019Badong merupakan rangkaian prosesi Ma\u2019Badong dalam upacara kematian rambu solo.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi suku Toraja, riwayat leluhur perlu dijaga dengan cara menghormati mereka yang telah meninggal, Ma\u2019Badong merupakan upacara kematian yang mana mewajibkan keluarga untuk membuat pesta sebagai tanda penghormatan kepada orang yang telah meninggal. Masyarakat suku Toraja juga percaya ritual Ma&#8217;Badong meningkatkan rasa solidaritas masyarakat dan sangat religius.<\/p>\n\n\n\n<p>Dikutip dari laman&nbsp;<em>Kemdikbud.go.id,<\/em>&nbsp;masyarakat suku Toraja percaya melalui ritual Ma\u2019Badong dapat &nbsp;memberikan kehidupan, keberkahan, keselamatan, maupun yang berupa penderitaan dan kesengsaraan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesenian Ma\u2019Badong dilakukan dalam bentuk tarian dan nyanyian, digelar tanpa diiringi alat musik, namun berisi syair-syair yang berisi puji-pujian kepada orang yang sudah meninggal dan terkadang syair-syair kesenian Ma\u2019badong juga berisi ratapan-ratapan kesedihan dari orang yang ditinggalkan. Nyanyian badong terdiri dari empat jenis, dan dinyanyikan secara berurut sesuai dengan fungsinya. Empat nyanyian badong antara lain badong nasihat, badong ratapan, badong berarak, dan badong selamat (berkat). <\/p>\n\n\n\n<p>Semua syair-syair Ma\u2019badong menggunakan bahasa Toraja. Tari Ma\u2019badong dilakukan oleh minimal tiga orang hingga jumlah yang tak ditentukan, bahkan mencapai ratusan orang. Maka tidak heran kesenian ini kerap dilakukan di lapangan terbuka.<\/p>\n\n\n\n<p>Peserta kesenian Ma\u2019Badong disebut sebagai Pa\u2019Badong, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dewasa hingga lanjut usia. Pa\u2019Badong menggunakan pakaian hitam dan sarung yang juga berwarna hitam, ada kalanya para Pa\u2019Badong menggunakan pakaian adat Toraja. Seiring dengan waktu maka peserta badong akan semakin banyak membentuk lingkaran besar&nbsp;(<em>issung<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p><em>Issung<\/em>&nbsp;diartikan sebagai lesung, lingkaran tersebut dianggap memiliki kemiripan dengan bulat lesung bagian atas. Dalam ritual Ma\u2019Badong, lingkaran penyanyi dapat berjumlah lebih dari satu. Satu lingkaran dikenal dengan nama sangissung dan dua lingkaran disebut duangissung.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kesenian Ma\u2019Badong dilakukan lebih dari satu kelompok lingkaran, maka tiap kelompok akan memiliki pemimpin grupnya sendiri-sendiri. Nantinya syair-syair yang dilagukan bisa jadi berbeda antar kelompok. Meskipun demikian, nyanyian yang berasal dari kelompok yang berbeda tersebut, tidak saling mengganggu dan tumpang tindih.<\/p>\n\n\n\n<p>Gerakan dalam Ma\u2019Badong tergolong sangat sederhana dan bisa dipelajari dalam seketika. Para Pa\u2019badong &nbsp;berdiri membentuk formasi lingkaran berpegangan dengan menggunakan jari kelingking yang saling melingkar sambil menyanyikan nyanyian badong.<\/p>\n\n\n\n<p>Ritual kesenian Ma\u2019Badong ini dapat dilakukan semalam suntuk, tergantung kemauan dan kemampuan dari penyanyi. Tari Ma\u2019badong dilaksanakan sebelum seorang yang meninggal diantarkan ke tempat pemakaman serta tidak ada batasan tempat maupun lamanya pelaksanaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesenian ini tidak boleh ditarikan sesuka hati, sebab tarian ini tidak bisa dilakukan jika tidak ada orang yang meninggal. Hal ini ini telah menjadi ketentuan adat Totaja sejak zaman dahulu dan apabila diadakan tanpa ada orang yang meninggal, berarti menyetujui jika akan ada orang yang meninggal.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, motivasi pelaksanaan kesenian ini sudah mulai bergeser ke motif ekonomi, bukan lagi murni mengungkapkan kesedihan dan doa untuk saling menghibur sebagaimana tujuan awal dari tarian ini.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TORAJA, salah satu etnis di daerah Sulawesi Selatan yang memiliki kesenian adat warisan leluhur yang masih dilaksanakan hingga saat ini. Salah satunya yaitu tari Ma\u2019badong. Kesenian tari tradisional ini merupakan prosesi adat yang sakral di tanah Toraja. Tari Ma\u2019Badong merupakan rangkaian prosesi Ma\u2019Badong dalam upacara kematian rambu solo. Bagi suku Toraja, riwayat leluhur perlu dijaga [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[8,4],"tags":[103,102,92,30,32,72],"content_type":[],"class_list":["post-2250","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pertunjukan","category-warisan","tag-kebudayaan-2","tag-pertunjukan","tag-toraja","tag-bkn-pdi-perjuangan","tag-bknpdiperjuangan","tag-taritradisional"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2250","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2250"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2250\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2275,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2250\/revisions\/2275"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2250"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2250"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2250"},{"taxonomy":"content_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/content_type?post=2250"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}