{"id":2313,"date":"2023-02-08T11:59:20","date_gmt":"2023-02-08T11:59:20","guid":{"rendered":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/?p=2313"},"modified":"2023-02-08T11:59:24","modified_gmt":"2023-02-08T11:59:24","slug":"mengenal-metatah-upacara-potong-gigi-di-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/mengenal-metatah-upacara-potong-gigi-di-bali\/","title":{"rendered":"MENGENAL METATAH, UPACARA POTONG GIGI DI BALI<br>"},"content":{"rendered":"<p>Metatah atau potong gigi,\u00a0\u00a0merupakan ritual keagamaan yang harus dilaksanakan oleh semua umat Hindu di Bali, khususnya bagi yang telah menginjak masa remaja. Dalam ajaran ini terkandung nilai-nilai pendidikan budi pekerti yang sedang dibutuhkan pada masa remaja sebagai sarana dalam pembentukan kepribadian anak yang merupakan kelanjutan dari pembentukan di masa bayi dalam kandungan, dengan harapan lahirnya anak yang suputra (anak yang baik). Oleh karena itu, sifat-sifat keraksasaan tersebut perlu dinetralisir dan dikendalikan, agar nantinya dapat tercapainya tujuan, yaitu diharapkan sifat-sifat keraksasaan dapat berubah menjadi sifat-sifat kebaikan. <\/p>\n\n\n\n<p>Upacara\u00a0Metatah sudah dilaksanakan sejak dahulu kala dan terus berkembang sampai saat ini.\u00a0Dan biasanya di Bali upacara Metatah ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan upacara Ngaben, pernikahan, dan Ngeresi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"918\" src=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/c-1024x918.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2314\" srcset=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/c-1024x918.jpeg 1024w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/c-300x269.jpeg 300w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/c-768x689.jpeg 768w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/c.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Selain itu, upacara Mentatah mengandung makna yang dalam bagi kehidupan, yaitu: (1) pergantian perilaku untuk menjadi manusia sejati yang dapat mengendalikan diri dari godaan nafsu, (2) memenuhi kewajiban orang tuanya terhadap anaknya untuk menemukan hakekat manusia yang sejati dan (3) untuk dapat bertemu kembali kelak di surga antara anak dengan orang tuanya setelah sama-sama meninggal.<\/p>\n\n\n\n<p>Metatah berasal dari kata tatah yang dalam bahasa Bali berarti pahat. Metatah atau potong gigi dilakukan dengan mengikir kedua gigi taring dan empat gigi seri rahang atas, proses ini harus dilakukan dengan hati-hati.\u00a0Setelah gigi dikikir, peserta Metatah diminta untuk mencicipi enam rasa. Dari pahit dan asam, pedas, sepat, asin dan manis. Setiap rasa ini memiliki makna di dalamnya. Rasa pahit dan asam adalah simbol agar tabah menghadapi kehidupan yang keras. Rasa pedas sebagai simbol tentang kemarahan, senantiasa sabar apabila mengalami hal yang menimbulkan emosi kemarahan. Rasa sepat sebagai simbol agar taat pada peraturan atau norma-norma yang berlaku. Rasa asin menandakan kebijaksanaan sedangkan rasa manis sebagai penanda kehidupan yang bahagia.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/d-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2316\" srcset=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/d-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/d-300x225.jpeg 300w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/d-768x576.jpeg 768w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/d.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Upacara mentatah atau potong gigi umumnya dilakukan pada pagi hari setelah matahari terbit namun ada pula di beberapa daerah di Bali melaksanakannya pada subuh sebelum matahari terbit. Pakaian mentatah atau potong gigi juga sangat khusus, berwarna putih dan kuning. Sehari sebelumnya biasa dilakukan upacara mekekeb atau mepingit untuk yang akan melakukan potong gigi. Mereka dilarang untuk keluar rumah. Upacara mentatah atau potong gigi memerlukan dana yang tidak sedikit, untuk itu sering diadakan metatah massal yang boleh diikuti oleh masyarakat yang kurang mampu, bahkan ada beberapa desa yang melaksanakan potong gigi massal gratis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/b1-1024x768.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2318\" srcset=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/b1-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/b1-300x225.jpeg 300w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/b1-768x576.jpeg 768w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/b1-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/02\/b1.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Sumber: https:\/\/www.djkn.kemenkeu.go.id\/kpknl-denpasar\/baca-artikel\/14861\/Apa-sih-Upacara-Potong-Gigi<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Metatah atau potong gigi,\u00a0\u00a0merupakan ritual keagamaan yang harus dilaksanakan oleh semua umat Hindu di Bali, khususnya bagi yang telah menginjak masa remaja. Dalam ajaran ini terkandung nilai-nilai pendidikan budi pekerti yang sedang dibutuhkan pada masa remaja sebagai sarana dalam pembentukan kepribadian anak yang merupakan kelanjutan dari pembentukan di masa bayi dalam kandungan, dengan harapan lahirnya [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":3,"featured_media":2321,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[128,130,129,30,131,32,72,52],"content_type":[],"class_list":["post-2313","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebudayaan","tag-bali","tag-hindu","tag-mentatah","tag-bkn-pdi-perjuangan","tag-bkn-pedia","tag-bknpdiperjuangan","tag-taritradisional","tag-tradisi"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2313","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2313"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2313\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2323,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2313\/revisions\/2323"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2321"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2313"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2313"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2313"},{"taxonomy":"content_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/content_type?post=2313"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}