{"id":2935,"date":"2023-06-20T05:22:44","date_gmt":"2023-06-20T05:22:44","guid":{"rendered":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/?p=2935"},"modified":"2023-06-20T05:22:51","modified_gmt":"2023-06-20T05:22:51","slug":"operasi-trikora-bung-karno-mulai-dari-diplomasi-sampai-pembuktian-indonesia-negara-dengan-militer-terkuat-di-bumi-bagian-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/operasi-trikora-bung-karno-mulai-dari-diplomasi-sampai-pembuktian-indonesia-negara-dengan-militer-terkuat-di-bumi-bagian-selatan\/","title":{"rendered":"Operasi Trikora Bung Karno : Mulai dari Diplomasi sampai Pembuktian Indonesia Negara dengan Militer Terkuat di Bumi Bagian Selatan"},"content":{"rendered":"<p>Pada masa pemeritahan Soekarno, Indonesia dijuluki sebagai negara yang memiliki kekuatan militer bersenjata terkuat di bumi bagian selatan. Hal itu salah satunya ditunjukan dalam Operasi Trikora (Tiga Komando Rakyat), aksi koersif yang dilakukan Bung Karno dalam mempertahankan Irian Barat dari upaya perebutan Belanda. Trikora merupakan peristiwa bersejarah di mana seluruh kekuatan Indonesia dimobilisasi dalam upaya mempertahankan Irian Barat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/WhatsApp-Image-2023-06-16-at-17.44.02-1024x576.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2936\" srcset=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/WhatsApp-Image-2023-06-16-at-17.44.02-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/WhatsApp-Image-2023-06-16-at-17.44.02-300x169.jpeg 300w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/WhatsApp-Image-2023-06-16-at-17.44.02-768x432.jpeg 768w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/WhatsApp-Image-2023-06-16-at-17.44.02-1536x864.jpeg 1536w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/06\/WhatsApp-Image-2023-06-16-at-17.44.02.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Hal itu diungkapkan oleh Gubernur Lembaga Pertahanan Indonesia (Lemhannas) RI Andi Widjajanto, dalam Podcast Bung Karno Series 3 yang tayang di kanal Youtube BKN PDI Perjuangan pada Jumat (16\/6\/2023).<\/p>\n\n\n\n<p>Andi menjelaskan, jalan diplomasi yang dilakukan Bung Karno dengan membangun hubungan bilateral terhadap Belanda untuk mengintegrasikan Irian Barat ke Indonesia telah dilakukan. Namun demikian, upaya &#8220;soft diplomation&#8221; tersebut masih belum membuahkan hasil. Oleh karena itu, Bung Karno melakukan tindakan koersif dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda dan menghentikan penerbangan dari Amsterdam ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ini sudah koersif, tetapi menggunakan instrumen-instrumen non militer. Ketika itu tetap gagal, maka di tahun 1958 mulai disiapkan langkah-langkah koersif yang lain. Terutama untuk memberikan sinyal kepada Belanda bahwa integrasi Irian Barat ke Indonesia itu mutlak,&#8221; jelas Andi.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Andi, keberanian Bung Karno melakukan langkah-langkah strategis tersebut karena melihat situasi global yang tidak kondusif. Selain itu, keadaan politik dalam negeri yang semakin membaik, serta kekuatan militer sudah dirasa mumpuni untuk merebut Irian Barat ke tangan Indonesia. Menurutnya, kekuatan militer Indonesia sudah memiliki alustista paling moderen di zaman itu. Kecanggihan alutsista tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan militer bersejata terkuat di belahan bumi bagian selatan.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Kita punya kapal penjelajah, KRI Irian yang hari ini merupakan kapal dengan spek tertinggi yang dimiliki angkatan laut. Kita punya pesawat bomber. Itu cuma satu-satunya di masa itu, masa di mana angkatan udara punya pesawat bomber. Ya, di masa itu,&#8221; kata Andi.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Secara global, terutama negara Amerika Serikat sedang tertatih-tatih untuk memulihkan ekonomi perangnya. Ada krisis di Jerman Timur&#8211;Tembok Berlin, dan lain-lain. Secara domestik, legitimasi politik Bung Karno pun sangat kuat, lanjut Andi.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun, Andi mengungkapkan, operasi Trikora merupakan bentuk mobilisasi nasional. Seluruh aspek yang dimiliki Indonesia diarahkan untuk melawan Belanda di Irian Barat. Saat itu, Bung Karno menyiapkan komando mandala. Komando ini berisi 36 rancangan operasi militer, salah satunya operasi Laut Aru.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pak Yos Sudarso gugur di situ (operasi Laut Aru). Ada operasi Naga. Ada operasi Sandi Yudha. Ada operasi Jatayu dan seterusnya. Total itu ada 36 operasi. Operasinya tidak pernah tuntas. Termasuk operasi pendaratan besar gabungannya yang dirancang komando Mandala tidak terlaksana. Itu Karena kemudian Belanda memutuskan untuk menyerahkan Irian Barat ke Indonesia,&#8221; tutur Andi.<\/p>\n\n\n\n<p>Selengkapnya di channel Youtube berikut<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Gubernur Lemhannas Andi Widjajanto Ceritakan Perjuangan Bung Karno Pertahankan Irian Barat (Papua)\" width=\"640\" height=\"360\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/bi8-lhPWbq8?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada masa pemeritahan Soekarno, Indonesia dijuluki sebagai negara yang memiliki kekuatan militer bersenjata terkuat di bumi bagian selatan. Hal itu salah satunya ditunjukan dalam Operasi Trikora (Tiga Komando Rakyat), aksi koersif yang dilakukan Bung Karno dalam mempertahankan Irian Barat dari upaya perebutan Belanda. Trikora merupakan peristiwa bersejarah di mana seluruh kekuatan Indonesia dimobilisasi dalam upaya [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":2937,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[19,12,15],"tags":[80,30,32,40],"content_type":[23],"class_list":["post-2935","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bung-karno-bapak-bangsa","category-sejarah","category-tokoh","tag-bknpdiperjuangan-2","tag-bkn-pdi-perjuangan","tag-bknpdiperjuangan","tag-pdi-perjuangan","content_type-artikel"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2935","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2935"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2935\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2938,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2935\/revisions\/2938"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2937"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2935"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2935"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2935"},{"taxonomy":"content_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/content_type?post=2935"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}