{"id":2957,"date":"2023-07-07T06:53:46","date_gmt":"2023-07-07T06:53:46","guid":{"rendered":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/?p=2957"},"modified":"2023-07-07T06:54:00","modified_gmt":"2023-07-07T06:54:00","slug":"kalau-mau-kuat-jangan-terjebak-jadi-bangsa-imitasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/kalau-mau-kuat-jangan-terjebak-jadi-bangsa-imitasi\/","title":{"rendered":"Kalau Mau Kuat, Jangan Terjebak Jadi Bangsa Imitasi!"},"content":{"rendered":"<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"564\" src=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/WhatsApp-Image-2023-06-24-at-20.06.59-1024x564.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2958\" srcset=\"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/WhatsApp-Image-2023-06-24-at-20.06.59-1024x564.jpeg 1024w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/WhatsApp-Image-2023-06-24-at-20.06.59-300x165.jpeg 300w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/WhatsApp-Image-2023-06-24-at-20.06.59-768x423.jpeg 768w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/WhatsApp-Image-2023-06-24-at-20.06.59-1536x846.jpeg 1536w, https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/WhatsApp-Image-2023-06-24-at-20.06.59.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p>Sebuah ungkapan menyatakan bahwa suatu bangsa akan menjadi besar jika berpegang teguh terhadap falsafahnya. Bangsa Indonesia punya falsafahnya sendiri yaitu Pancasila. Pancasila merupakan hasil dari pemikiran sang proklamator, Ir Soekarno yang luar biasa. Pancasila lahir dari falsafah hidup dan nilai-nikai budaya Bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Poin-poin itu disampaikan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Ideologi dan Kaderisasi Djarot Saiful Hidayat dalam Podcast Bung Karno Series, Bulan Bung Karno BKN PDI Perjuangan, Jumat, 23 Juni 2023.<\/p>\n\n\n\n<p>Djarot menegaskan, falsafah Pancasila adalah ideologi yang dinamis, dan hidup di dalam sanubari Bangsa Indonesia. \u201cKarena tantangannya berbeda saat ini, maka nilai-nilai Pancasila bisa untuk menjawab tantangan di tiap zaman,\u201d kata Gubernur DKI Jakarta 2017 ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat dibuang ke Ende, NTT, hampir setiap malam di bawah pohon sukun Bung Karno berkontemplasi menggali nilai-nilai budaya dan falsafah dasar Indonesia kalau kelak merdeka. Hasil perenungan itu dijadikan rumusan menyusun sila-sila Pancasila yang disampaikan pada sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( (BPUPKI) 1 Juni 1945. \u201cDari hasil penggalian nilai-nilai budaya dan falsafah bangsa itulah akhirnya lahir lima butir Pancasila,\u201d ucap Djarot.<\/p>\n\n\n\n<p>Pancasila kata Djarot menjadi pemersatu keberagaman suku, agama, ras yang ada di Indonesia. Karena digali dari bangsa kita sendiri, maka sebagai \u2018way of life\u2019 Pancasila bersifat timeless, sehingga bisa menyatukan Indonesia tanpa memandang perbedaan suku, agama, dan perbedaan lainnya. \u201cKalau tak ada Pancasila, bangsa ini tak bisa bersatu, pecah berkeping-keping seperti Yugoslavia yang jadi tujuh negara. Di sana ada kesamaan suku, agama, dan latar sejarah masing-masing suku, tapi pecah karena tak ada ideologi pemersatu seperti Pancasila,\u201d urainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Djarot bahkan menyebut Indonesia sebagai negara yang \u2018ajaib\u2019. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, negeri kita sangat besar, dengan beragam budaya dan agama, tapi terikat oleh kesamaan \u2018way of life\u2019 yakni Pancasila. \u201cSelama Pancasila terpatri pada sanubari bangsa Indonesia, saya haqul yakin Indonesia tak akan pecah,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Djarot mengungkap, Bung Karno selalu menanamkan kepada rakyat Indonesia proses pembangunan karakter bangsa yang dilakukan terus menerus secara lintas generasi. Seperti dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya, \u2018bangunlah jiwanya\u2019, baru \u2018bangunlah badannya\u2019. Dikaitkan dengan kondisi saat ini, kita berhadapan dengan kemajuan teknologi informasi yang semakin bebas dan terbuka, juga dengan masuknya ideologi-ideologi yang bertentangan dengan Pancasila menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHasil survei Setara Institute dan Forum on Indonesian Development (INFID) baru-baru ini mencatat 83,3 persen siswa SMA menganggap Pancasila bukan ideologi permanen dan bisa diganti. Karena itu, Pancasila perlu ditanamkan sejak dini nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak,\u201d terangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Wali kota Blitar dua periode ini mengingatkan, jika Indonesia ingin jadi negara kuat, jangan terjebak menjadi bangsa imitasi. \u201cDatang kebudayaan dari Arab, Korea, Amerika, jangan mentah-mentah diikuti. Harus disaring. Tetaplah bangga dengan identitas bangsa Indonesia,\u201d tegas Djarot.<\/p>\n\n\n\n<p>Kehadiran berbagai platform media sosial yang memuat banyak konten-konten yang mengancam eksistensi Pancasila pun perlu diwaspadai. Di sinilah kita harus waspadai agar tak jadi korban \u2018cuci otak\u2019 ideologi, misalnya ideologi fundamentalisme agama. \u201cSangat ironis, ini akibat dari keterbukaan global. Keterbukaan era digital menyerang banyak pihak, termasuk anak-anak,\u201d urainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengingatkan kita agar tak kembali melakukan politisasi SARA, membenturkan suku, agama, dan antar golongan, seperti terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017. \u201cYang terjadi di Jakarta saat itu sudah bukan demokrasi lagi, tapi sudah barbar dan kejahatan demokrasi. Memaksakan kehendak dan menghalalkan segala cara demi memperoleh kekuasaan,\u201d kata Djarot.<\/p>\n\n\n\n<p>Djarot menggarisbawahi, seorang yang menjalankan Pancasila sebagai pandangan hidupnya harus berperikemanusiaan dan menjadi sosok beradab, toleran, dan menjunjung persatuan. \u201cSaya pernah dihadang-hadang dan diancam oleh kelompok itu. Saya jawab, bahwa kalau tak suka pada Ahok, Djarot, itu hak kalian untuk tidak memilih. Tapi tak bisa mengintimidasi dan menjual ayat-ayat untuk kepentingan sendiri,\u201d jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Djarot berpesan, bangsa Indonesia yang menganut sistem demokrasi pasti selalu memiliki perbedaan. &#8220;Namun, perbedaan itu bukan untuk menjadikan kita bermusuhan. Di sinilah Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa menyatukan semua perbedaan dan memperkokoh persatuan bangsa. Pancasila itu merangkul semua komponen anak bangsa,\u201d pungkas Djarot.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai catatan, baru-baru ini, Pidato Bung Karno berjudul To Build the World A New (Membangun Tata Dunia Kembali) ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World (MoW). Pidato Bung Karno yang sangat monumental itu berlangsung di depan Sidang PBB pada 31 September 1960 dan ditetapkan sebagai dokumen sejarah. Ini menjadi bukti bahwa dunia begitu mengagumi Bung Karno dan pemikiran Bung Karno yang dianggap bukan sekadar pemimpin bangsa Indonesia, tetapi pemimpin dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Learn More<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"Hebat ! Djarot Saiful Hidayat Jelaskan Arti Pancasila Yang Sebenarnya Bagi Keutuhan Bangsa\" width=\"640\" height=\"360\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/u4DTDbLHoCs?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebuah ungkapan menyatakan bahwa suatu bangsa akan menjadi besar jika berpegang teguh terhadap falsafahnya. Bangsa Indonesia punya falsafahnya sendiri yaitu Pancasila. Pancasila merupakan hasil dari pemikiran sang proklamator, Ir Soekarno yang luar biasa. Pancasila lahir dari falsafah hidup dan nilai-nikai budaya Bangsa Indonesia. Poin-poin itu disampaikan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Ideologi dan Kaderisasi Djarot [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":2958,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[32,173,174,40],"content_type":[23,176,178],"class_list":["post-2957","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-bknpdiperjuangan","tag-bulan-bung-karno","tag-bung-karno","tag-pdi-perjuangan","content_type-artikel","content_type-bkn-pdi-perjuangan","content_type-bulan-bung-karno"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2957","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2957"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2957\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2959,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2957\/revisions\/2959"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2958"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2957"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2957"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2957"},{"taxonomy":"content_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/content_type?post=2957"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}