{"id":3278,"date":"2024-07-11T15:21:40","date_gmt":"2024-07-11T08:21:40","guid":{"rendered":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/?p=3278"},"modified":"2024-07-11T15:35:22","modified_gmt":"2024-07-11T08:35:22","slug":"tradisi-gebug-ende-ritual-memanggil-hujan-dari-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/tradisi-gebug-ende-ritual-memanggil-hujan-dari-bali\/","title":{"rendered":"Tradisi Gebug Ende, Ritual Memanggil Hujan dari Bali"},"content":{"rendered":"<p>Gebug Ende dikenal juga sebagai Gebug Seraya merupakan tradisi masyarakat yang tumbuh dan berkembang di Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, Bali. Tradisi ini dipandang sakral karena dipercaya untuk memohon hujan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya ritual Gebug Ende ini dilaksanakan pada saat musim kemarau dan dilakukan setelah pulang berladang.<\/p>\n\n\n\n<p>Gebug Ende berasal dari kata gebug dan ende. Gebug artinya adalah memukul dan alat yang digunakan adalah rotan dengan panjang sekitar 1,5 hingga 2 meter. Sedangkan alat untuk menangkisnya disebut dengan Ende. Ende dibuat dari kulit sapi yang dikeringkan selanjutnya dianyam berbentuk lingkaran.<\/p>\n\n\n\n<p>Tradisi Gebug Ende telah ditetapkan sebagai Warisan Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta diakui Hak Kekayaan Intelektual (HKI) oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gebug Ende dikenal juga sebagai Gebug Seraya merupakan tradisi masyarakat yang tumbuh dan berkembang di Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, Bali. Tradisi ini dipandang sakral karena dipercaya untuk memohon hujan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya ritual Gebug Ende ini dilaksanakan pada saat musim kemarau dan dilakukan setelah pulang berladang. Gebug Ende berasal dari kata gebug [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":3279,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"inline_featured_image":false,"footnotes":""},"categories":[5,8,4],"tags":[214,215,213],"content_type":[],"class_list":["post-3278","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-permainan-tradisional","category-pertunjukan","category-warisan","tag-bali-2","tag-gebug-ende","tag-gebug-seraya"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3278","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3278"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3278\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3282,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3278\/revisions\/3282"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3279"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3278"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3278"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3278"},{"taxonomy":"content_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/bknpdiperjuangan.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/content_type?post=3278"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}